Tingkat Kelulusan UN Di NTT Terburuk se-Indonesia

Persentase kelulusan ujian nasional (UN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya mencapai 47,92 persen dan berada pada peringkat terakhir angka kelulusan dari 33 provinsi di Indonesia.

“Kita memang berada pada peringkat terakhir prosentase kelulusan ujian nasional tahun 2010 ini,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga (PPO), Thobias Uly di Kupang, Senin (26/4).

Hasil Uuian nasional tertinggi ditempati Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Sumatera utara. Sedangkan, NTT berada di urutan terakhir dengan nilai rata-rata 5,64.

Menurut dia, dari jumlah peserta yang mengikuti ujian nasional pada 2010 sebanyak 35.201, hanya 16.868 atau 47,59 persen yang lulus, sedangkan siswa yang tidak lulus sebanyak 18.333 atau 52,08 persen. “Bagi 18 ribu lebih siswa yang tidak lulus ujian nasional ini akan mengikuti ujian nasional susulan,” katanya.

Untuk ujian nasional susulan ini, lanjutnya, pihaknya sedang menggandakan soal di percetakan untuk penyelenggaraan ujian susulan pada 10-14 Mei 2010 ini.

Jika dibandingkan dengan 2009 yang persentase kelulusannya mencapai 69,23 persen, maka persentase kelulusan tahun ini mengalami penurunan sebesar 21,31 persen.

Penurunan persentase kelulusan ini, menurut dia, disebabkan kurangnya persiapan siswa mengikuti ujian nasional, sumber daya manusia (SDM) guru yang belum seluruhnya disertifikasi.

Masalah yang paling dominan, yakni tidak sinkronnya program antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk meningkatkan persentase kelulusan di daerah ini. “Otonomi daerah menjadi kendala tersendiri untuk meningkatkan persentase kelulusan, karena kewenangan kita terbatas,” katanya.

Penyebab lainnya, yakni masih rendahnya penguasaan kurikulum. Namun, hasil tersebut bukan merupakan hasil final ujian nasioal, karena masih dilaksanakan ujian ulang. “Mudah-mudahan dengan pengalaman ujian utama ini, kita lebih siap untuk ujian ulang nanti,” ujarnya.

Untuk info Kelulusan wilayah kaltim kunjungi >> jumlah siswa tidak lulus UN 2010 kaltim, bali, makassar, dan surabaya.

Sumber ; Tempo Interaktif

2 Responses

  1. Sistem pembelajaran kita yang terlalu kaku… kita dapat mencoba dengan sistem pembelajaran Sekolah rumah di NTT mungkin akan lebih baik… sebab jarak jangkau sekolah dengan rumah penduduk sangat jauh yang mengakibatkan siswa kelelahan dalam mengikuti ujian… itu juga dapat menjadi kendala… dalam siswa memperispkan diri dalam belajar….

  2. ini juga sudah merupakan usaha… rendah bukan berarti gagal total…. inilah cara kita menghargai pendidikan.. mulai dari rendah baru ke tinggi…. semangat terus generasi muda,, buktikan bahwa kita bisa bukan pemerintah, guru, atau masyarakat yg hanya tau menuntut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: